Sabtu, 15 Januari 2011

ASAL - USUL TAREMPA PART 1

Kata Pengantar

Dengan mengucapkan syukur kepada Tuhan atas anugrahnya, penyusunan naskah Asal Usul Pulau Terempa ini merupakan tugas bagi kita yang merupakan masyarakat Siantan asli untuk mengetahui asal usul nenek moyang kita serta asal usul diri kita sendiri yang mengakui asli masyarakat siantan ini.

Kepada kita semua diharapkan dapat memanfaatkan naskah ini kearah tercapainya pembangunan yang lebih efektif. Dan bila ada hal-hal yang kurang, segala saran dan pertimbangan sangat saya harapkan.

Tak lupa terima kasih saya kepada semua pihak yang telah membantu saya didalam penyusunan naskah Asal Usulnya Pulau Terempa ini serta asal mulanya nama Terempa ini. Semoga usaha kita bersama untuk memajukan perkembangan pembangunan didaerah Riau, Siantan khususnya dengan potensi alam yang cukup baik, semoga diberkati Tuhan dan mencapai hasil yang diharapkan.

Penyusun Naskah

(Joesoef Sattah/R.H. Zaid)

Disusun ulang oleh

(FREDDY)


Silsilah Penduduk Asli Kecamatan Siantan Dan Asal Mula Kota Terempa

Sekapur Sirih Seulas Pinang

Tulisan ini tidak mengajak kita berbual politik, tidak bermaksud membanggakan diri, tidak terselip paham sukuisme dan jauh sekali dari niat buruk, itikad yang terpatri dihati penyusun adalah itikad baik yaitu agar semua orang dapat mengetahui tentang silisilah penduduk asli yang mendiami pulau-pulau dalam kecamatan Siantan ini serta asal mulanya kota anda yang kecil mungil ini bernama Terempa. Disamping itu agar dapat pula diketahui oleh orang-orang lain bahwa putra-putra daerah inipun masih mempunyai perhatian dalam masalah ini dan mempunyai marwahnya. Itikad inilah yang terpatri tidak kurang tidak lebih, sewaktu tercecahnya kalam untuk menyusun naskah ini.

Secara sadar Penyusun mengakui bahwa dirinya masih terlalu bodoh jika dibandingkan dengan ahli-ahli sejarah di Republik ini. Oleh sebab itu Penysun bersedia diberikan teguran/kritik atau apa saja. Terutama yang datangnya dari ahli-ahli sejarah, ahli kebudayaan, para orang tua-tua asli dan cerdik cendekiawan didaerah ini sangatlah diharapkan tegur sapanya.

Disamping itu semua, Penyusun bersedia pula dirinya dihadapka kepada suatu diskusi besar membicarakan masalah ini dan bersedia pula untuk memberikan dan mempertahankan pendapat-pendapatnya. Semoga dengan adanya hal-hal itu, naskah ini dapat disusun secara lebih lengkap dan sistematis.

Adapun bahan-bahan yang dipakai untuk menyusun naskah ini adalah berdasaarkan:
01. Bahan-bahan peninggalan sejarah yang masih ada didalam daerah ini.
02. Peninjauan langsung pada tempat-tempat yang tersebut dalam naskah ini.
03. Pembacaan buku-buku/kitab-kitab sejarah melayu yang diterbitkan oleh pujangga-pujangga Melayu zaman dahulu, yaitu:

- Kitap Hikayat Hang Tuah dan Kitab Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin) karangan Tan Sri Lanang (Bendahara Kerajaan Johor) tahun 1622 - 1625
- Kitab Hikayat Abdullah Karangan Abdullah bib Badulkadir Munsyi, tahun 1840
- Kitab Silsilah Melayu dan Bugis dan Kitab Tuhf Atan Nafis karangan Raja Ali Haji (Pengarang Gurindam XII) tahun 1856
04. Cerita Hikayat yang kai dapat dari orang-orang tua asli didaerah ini
05. Pendengaran syair-syair lewat radio Malaysia/Singapura bagian Melayu (ruang syair dan bangsawan di udara)
06. Pendapat-pendapat sendiri yang didasarkan dengan adanya persamaan Bahasa/Kebudayaan/ Istiadat dan lain-lain daerah ini dengan tempat-tempat yang tersebut dalam naskah ini.

Demilianlah dengan bekal yang ada itu, kamipun mencoba menyusun naskah ini. Pepatah mengatakan "Jika kail panjang sejengkal, jangan lautan hendak diduga" dalam penyusunan ini tidaklah kami pakai karena kami bukan hendak menduga lautan, melainkan memancing dilaut itu. Semoha dengan kail yang hanya sejengkal itu akan mendapatkan hasil sebagaiman yang kami harap-hrapkan. Akhir kata atas perhatian pembaca dalam masalah ini, kami mengucapkan terima kasih dan terima kasih semuanya.

Semoga ianya menjadi manfaat bagi kepentingan rakyat di Kepulauan ini, sekurang-kurangnya bermanfaat bagi kami sendiri untuk masa depan yang jauh.

I. Perkampungan di Gunung Kute

Dipenghujung abad ke XVI, didaerah Gunung Kute, yang terletek dalam salah satu Teluk di Pulau Matak, (Berdekatan dengan pulau Tokong, Teluk Sunting dan Kampung Langit) pada waktu itu telah merupakan suatu perkampungan kecil yang didiami oleh sekelompok penduduk.

Adapun penduduk yang mendiami perkampungan Gunung Kute tersebut adalah berasal dri anak buah Lanon-lanon (perampok-perampok laut) Kerajaan Kamboja (Negeri Campa) serta para tawanannya yang berasalam dari Semenanjung Malaya (Pesisir Bagian Timur) Temasik (Singapura) dan Pulau-pulau di perairan Bintan (Riau).

Lanon-lanon Kamboja itu menyerang perahu-perahu dagang yang berlayar dari Malaka, Temasik enuju Tongkok atau daerah lainnya yang melalui Lautan Cina Selatan. Kadang-kadang mereka menyerang perkampungan-perkampungan penduduk yang mendiami tempat-tempat tersebut diatas.

Para anak buah perahu-perahu dagang atau para penduduk yang telah menjadi tawanan mereka itu, mereka bawa ke Gunung Kute berikut harta bendanya. Para tawanan mereka jadikan hamba sahay, dan para wanitanya ada pula yang dijadikan istri oleh para lanon tersebut.

Berhubung Gunung Kute itu terletak dalam salah satu teluk sehingga terlindung dari pandangan musuh dan pukulan angin ribut, serta tanahnya baik untuk bercocok tanam, maka Gunung Kute itu dijadikan tempat berlindung (basis) mereka.

Tahun berganti tahun, musim berganti musim, para Lanon dan penduduk yang telah terdiri dari para tawanan itupun bertambah banyak.

Akibat dari perasaan putus asa, dan pengaruh lingkungan serta pengaruh alam, maka para tawanan yang berasal dari Pesisir Timur Semenanjung Malaya, Temasik da pulau-pulau diperairan Riau itu dapat melupakan tempat asalnya. Mereka menerima hidup didaerah Gunung Kute itu, bercampur gaul, bekerja dengan bercocok tanam untuk mencari penghidupan. Para Lanon itu telah mereka anggap sebagai orang yang harus dipatuhi. Mereka merupakan suatu keluarga yang besar, senasip dan sepenanggungan.

Begitulah masa berlalu dari tahun ke tahun, dan oleh karenanya terjadilah percampuran (asimilasi) penduduk. Pekerjaan sehari-hari mereka telah diatur sedemikian rupa, para Lanon itu bertugas merampok dilaut luas. Para tawanan hidup bercocok tanam, menanam sagu, ubi dan lain-lain yang dapat dijadikan sebagai bahan makanan pokok mereka. Apabila tidak ada perahu-perahu yang akan dirampok, mereka pergi kelaut untuk menyelam sebagai mana lazimnya pekerjaan para Lanon yang mencari hasil laut untuk makanan sehari-hari. Tap-tiap tahun semakin banyak Lanon-lanon yang berlindung ddaerah Gunung Kute itu, dan begitu juga dengan para tawanannya.

Penjelasan:

Para Lanon dan penduduk yang mendiami daerah Gunung Kute itu adalah masyarakat yang hidup pada penghujung abad ke XVI. Sebelumnya dapat dipastikan bahwa tidak ada manusia yang mendiami pulau-pulau di Laut Cina Selatan ini. Hal itu dapat kita ketahui bahwa menurut buku Sejarah Melayu, Bangsa Portugis pernah dalam waktu yang pendek menduduki pulau-pulau di perairan Riau yaitu tahun 1526. Dalam masa pendudukan itu tidak pernah disebut-sebut nama pulau di Laut Cina Selatan ini baik pulau Anambas maupun Natuna. Baru dalam buku ' HIKAYAT HANGTUAH" dan "SULATUS SALATIN" yang kedua-duanya ditulis oleh TUN SRI LANANG Bendahara Kerajaan Johor pada tahun 1622-1625, nama-nama seperti Sungai Duyung, Bulan Perih, Kopak, Air Abu (Kiabu), Mantak (Matak) yang kita ketahui sekarang ini ada diceritakan didalam buku tersebut. Jadi bedasarkan hal itulah dapat ditarik kesimpulan bahwa baru pada penghujungabad ke XVI pulau-pulau di Laut Cina Selatan ini dikenal orang.

(Bersambung)















 dikutip dari http://irmasaddono.blogspot.com/2010/06/asal-usul-pulau-terempa.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar