Sabtu, 15 Januari 2011

ASAL - USUL TAREMPA PART 3

III. Keramat Pulau Siantan

Suatu hal yang telah menjadi kebiasaan dari para lanon jika ada diantara mereka yang tewas sewaktu merampok maka mayatnya dibawa pulang dan dikuburkan pada suatu tempat yang terpisah dari kuburan-kuburan orang yang matinya secara biasa. Para lanon yang tewas sewaktu merampok ini mereka anggap sebagai pahlawan yang tewas di medan perang. Kuburan mereka itu dimuliakan dan dianggap keramat.

Dalam pemerintahan Datuk Kaye Dewa Perkase itu ada seorang kepala lanon yang menjadi tangan kanan Datuk Kaye Dewa Perkase, namanya Nakhoda Alang. Adapun Nakhoda Alang ini ialah bekas Panglima di kerajaan Johor yang berkhianat kepada Sultannya, dan bersekutu dengan para lnon di Gunung Kute itu.

Sewaktu pengkhianatannya itu diketahui oleh Sultan maka Nakhoda Alang lari mengikuti para lanon yang meyerang pantai negeri Johor tetapi dapat dikalahkan oleh Laksamana Johor maka larilah Nakhoda Alang yang telah banyak jasanya dengan lanon itu untuk menjadi salah seorang Kepala Lanon yang berasal dari para tawanannya itu.

Tetapi malang bagi Nakhoda Alang karena dalam perampokannya dilaut, dia tewas terbunuh oleh Daeng Malewa (Hulubalang yang berasa; dari Bugis) yang membantu Sultan Johor dalam membasmi lanon-lanon Campa di Laut Cina Selatan.

Bukanmain sedihnya hati Datuk Kaye manakala diketahuinya Nakhoda Alang mati terbunuh. Diperintahkanlah 0leh Datuk Kaye untuk membuat kuburan yang lebih besar dari pada kuburan-kuburan lanon lainnya serta kuburannya harus dimuliakan.

Adapun kuburan lanon-lanon dan kuburan Nakhoda Alang itu terletak disalah sebuah pulau kecil terapung ditengah salah satu teluk di Pulau Matak. Letaknya tidak jauh dari Gunung Kute (disebelah pesisir Gunung Kute). Dan tempat itulah yang kita namakan sekarang ini dengan sebutan Keramat Pulau Siantan.

Diantara sekian banyak kuburan itu yang dianggap keramat banyalah sebuah kuburan saja. Kuburan tersebut agak besar daripada kuburan-kuburan lainnya dan kuburan itulah yang paling dimuliakan dan dikeramatkan sampai sekarang. Itulah kuburan Nakhoda Alang yang tempatnya juga disebut Keramat Pulau Siantan. Kuburan-kuburan lainnya dikompleks itu tidaklah dimuliakan sebagaimana mulianya kuburan Nakhoda Alang.

Penjelasan:

Dalam Buku Percikan Sejarah Riau yang juga didasarkan Buku Silsilah Melayu Bugis yang ditulis oleh Bapak Mohd. Thaid, seorang tua yang banyak tahu tentang Riau dan pada masa penulisan cerita ini beliau masih hidup dan bermukim di Tanjung Pinang, dalam buku tersebut dituliskan .....maka Sultan pun meminta bantuan Upu-Upu lima saudara yang baru datang dari Bugis yaitu:
Daeng Penambun, Daeng Malewa, Daeng Perani, Daeng Kemasi dan Daeng Mampawa yang ditugaskan untuk menumpas lanon-lanon negeri Campa yang telah bersekutu dengan nakhoda Alang yang bermukim di pulau Mantak di Laut Cina. Oleh Upu-Upu Lima Saudara diserahkan tugas ini kepad Upu Daeng Malewa untuk menumpas lanon-lanon itu. Maka berangkatlah Daeng Malea menghadang lanon-lanon itu di Laut Cina. Ditengah jalan bersualah ia dengan angkatan lanon-lanon dibawah pimpinan Nakhoda Alang dari Pulau Mantak. Berperanglah mereka, Keris berlaga keris, tombak berlaga tombak riuh rendah bunyinya dan sebagainya dst...Nakhoda Alang dapat ditewaskan larilah lanin-lanon itu pulang ke Mantak mebawa mayat Nakhoda Alang...dst"itulah sebabnya Daeng Malewa disebut Daeng Kamboja".

IV. Mendirikan Benteng Pertahanan

Akibat dari kematian Nakhoda Alang itu maka untuk menjaga segala kemungkinan-kemungkinan dan kekhawatiran adanya penyerangan dari Kerajaan Johor dan kerajaan-kerajaan lainnya, maka Datuk Kaye Dewa Perkase memerintahkan penduduk untuk membangun sebuah benteng pertahanan di puncak Gunung Kute.

Dari Gunung Kute itu terlihat jelas lautan Lepas dan amatlah baik dijadikan tempat pengintaian. Akhirnya seluruh penduduk yang mendiami pesisir (lereng) Gunung Kute itupun ikut juga pindah ke puncaknya.

Penjelasan:

Dalam peninjauan kami kedaerrah puncak Gunung Kute itu, maka dapatlah kami yakinkan bahwa memang terdapat Benteng dahulunya dipuncak Gunung itu, Dipuncak gunung Kute itu terdapat sebuah lapangan luas yang sekarang telah ditumbuhi oleh belukar, adanya bekas-bekas susunan batu karang yang menyerupai benteng yang sekarang telah runtuh.

Adanya pohon-pohon kelapa dan sagu yang terdiri dari serumpun-serumpun persis sebagaimana diatur penanamannya. Sebuah gua yang sempit arah jalan masuknya dan disampingnya ada sebuah pohon Balau yang batangnya menyerupai sebuah kamar (berpetak-petak). Disana-sini terdapat bentuk-bentuk piring mangko, mogol, sendok dan barang pecah belah lainnya yang kesemuanya telah menjadi batu. Sebidang tanah yang dipenuhi kuburan-kuburan dan ada salah satu kuburan yang agak besar (diperkitakan kuburan isteri para lanon). Nisannya berbentuk nisan perempuan yang juga terbuat dari batu karang dan mirip dengan nisan di kuburan Keramat Siantan. Banyak lagi tanda-tanda bekas peninggalan-peninggalan sejarah yang bisa kita jumpai dipuncaknya.

Begitulah kehidupan Datuk Kaye Dewa Perkase dipuncak Gunung Kute itu yang telah berlangsung bertahun-tahun lamanya. Penyerangan-penyerangan dari Kerajaan-kerajaan lainpun jarang terjadi lagi, dan Putri Balau Selakpun semakin hari semakin bertambah dewasa dan merupakan seorang putri yang teramat elok parasnya. Kampung Gunung Kute pun kian hari semakin bertambah ramai. Hal ini terdengar pula oleh para lanon-lanon dari negeri lain sehingga banyaklah diantara mereka menumpang berlindung di Teluk itu. Dan kesemuanya diterima oleh Datuk Kaye Dewa Perkase dengan baik dan senang hati dan kadang-kadang mereka juga saling tukar menukar harta rampasan.




dikutip dari http://irmasaddono.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar